Select Menu

Random post

Animalia

Evolusi

Genetika

Pertumbuhan Tumbuhan

info


وَإِذ قالَ رَبُّكَ لِلمَلٰئِكَةِ إِنّى جاعِلٌ فِى الأَرضِ خَليفَةً ۖ قالوا أَتَجعَلُ فيها مَن يُفسِدُ فيها وَيَسفِكُ الدِّماءَ وَنَحنُ نُسَبِّحُ بِحَمدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قالَ إِنّى أَعلَمُ ما لا تَعلَمونَ ﴿٣٠﴾ وَعَلَّمَ ءادَمَ الأَسماءَ كُلَّها ثُمَّ عَرَضَهُم عَلَى المَلٰئِكَةِ فَقالَ أَنبِـٔونى بِأَسماءِ هٰؤُلاءِ إِن كُنتُم صٰدِقينَ ﴿٣١﴾
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
31. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

Tafsir Surat Al – baqarah ayat 30 -31

Manusia Wakil Allah di Bumi
Dalam ayat – ayat ini kepemimpinan dan ke khalifahan di nyatakan dengan resmi. Dengan begitu, kedudukan spiritual manusia dan nilai semua manfaat di sandarkan dalam surat Al-baqarah ayat 30-31 menunjukkan secara sempurna adanya kekuatan dan kebesaran Allah Swt, di samping kewajiban bersyukur dan beribadah kepadanya. Setelah itu, Al-qur’an mulai menceritakan tentang penciptaan manusia dan respons yang muncul dari malaikat tentang penciptaan manusia, dan kedudukan manusia di antara makhluk yang lain.

Dalam ayat-ayat ini, yang di mulai dari ayat 30 dan berakhir pada ayat 39, Penciptaan Nabi Adam As (manusia pertama) di singgung dan tiga persoalan yang fundamental juga di sampaikan :
1. Allah memberitahu pada malaikat mengenai ke khalifahan manusia di bumi dan pertanyaan mereka kepada Allah Swt.
2. Para Malaikat di perintahkan bersujud di hadapan manusia pertama, Nabi Adam As. Situasi ini di singgung dalam banyak ayat dalam Al-qur’an.
3. Ilustrasi situasi Nabi Adam As dan kehidupan di surga serta peristiwa-peristiwa yang menyebabkan dia di keluarkan dari surge, kemudian taubatnya Nabi Adam As dan keharusan dia dan istrinya tinggal di dunia di perlihatkan.

Kita boleh menafsirkan Khalifah ini dengan tiga tafsiran :
Pertama : Bahwa Bumi dahulu kala di huni oleh makhluk lain, selain manusia. Kemudian Allah Swt, menginginkan Nabi Adan As menjadi Khalifah di Bumi ini.
Kedua : Sebagai Khalifah Allah Swt di bumi, sebab Allah Swt telah member keistimewaan berupa akal. Dan penciptaan akal itu tidak keluar dari ruang lingkup kehendak Nya. Dan dalil pendapat ini adalah firman Allah Swt ; (Q.S Al-Ahzab : 72)
إِنّا عَرَضنَا الأَمانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالأَرضِ وَالجِبالِ فَأَبَينَ أَن يَحمِلنَها وَأَشفَقنَ مِنها وَحَمَلَهَا الإِنسٰنُ ۖ إِنَّهُ كانَ ظَلومًا جَهولًا ﴿٧٢﴾
Artinya : “Sesungguhnya kami telah mengeluarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka manusia enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan di pukul amanat itu oleh manusia. Sesunggunya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (Q.S Al-Ahzab : 72)
Ketiga : Sebagai khalifah Malaikat dengan pertimbangan bahwa mereka adalah penghuni di Bumi.
Adapun sifat-sifat Khalifah ini akan menjadi pantulan cahaya sifat Allah Swt dan posisinya lebih tinggi dari pada Malaikat. Atas kehendaknyalah, bumi dan segala potensinya di persembahkan sesuai dengan kehendak Manusia.

Manusia pasti memiliki kebijakan, kecerdasan, konsep nan luas dan kapasitas khusus sehingga dia mampu menjalankan kepemimpinan dan kedaulatan atas makhluk-makhluk Bumi.
Karena itu dalam ayat pertama di katakana “Ketika Tuhan mu berkata kepada para Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan Khalifah di muka Bumi ini. . . . .”
Menurut para ulama besar dan intelektual Islam, serta para pakar dalam bidang Tafsir, makna objektif dari “Khalifah” (Wakil) adalah wakil Ilahiah di muka Bumi, karena pertanyaan yang di ajukan oleh para Malaikat. Yang mengatakan bahwa umat manusia mungkin akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di permukaan Bumi ini sedangkan mereka (para Malaikat) bertasbih kepadanya. Menguatkan makna ini bahwasanya wakil Allah Swt di muka Bumi tidak bersesuaian dengan perbuatan seperti ini.

Dalam sebuah Hadist Imam Ash-Shadiq ra, ketika menafsirkan ayat-ayat ini, menyinggung makna yang sama dan berkata bahwa para Malaikat, setelah mengetahui kedudukan Adam, menyadari bahwa Ia dan keturunannya layak menjadi wakil-wakil Allah Swt di Bumi ini dan berperan sebagai pembimbing manusia dengan izin Allah Swt.
Kemudian dalam ayat ini, para Malaikat menyampaikan sebuah pertanyaan untuk memahami realitas dan bukan sebagai tanda protes.
“Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya seseorang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya?“
Karena mereka sudah mengetahui apa yang di lakukan oleh penghuni Bumi sebelum Manusia. Jika pendapat ini di benarkan, mereka telah berbuat kerusakan di dalam Bumi dan melakukan tindakkan pertumpah darahan di muka Bumi ini. Atau para Malaikat telah mengetahui bahwa makhluk yang memiliki keinginan dan pilihan pasti akan berbuat kerusakan. Hal itu karena di ketahui bahwa Malaikat tidak memiliki bentuk pilihan-pilihan.
Atau bahwa Allah Swt telah menjelaskan kepada para Malaikat tabiat manusia dan apa yang akan terjadi dengan tabiat tersebut.

Barangkali para Malaikat mengira bahwa penciptaan Manusia di maksudkan untuk menyingkirkan mereka. Maka mereka pun berkata :
وَنَحنُ نُسَبِّحُ بِحَمدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ………..……
“…….padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan Mensucikan Engkau…….” (Q.S Al-Baqarah : 30)
إِنّى أَعلَمُ ما لا تَعلَمونَ………………
“……..sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui……..” ((Q.S Al-Baqarah : 30)
Argumen pertama adalah bahwa Adam mempelajari nama-nama segala sesuatu kemudian mengajarkannya kepada para Malaikat yang sebelumnya tidak mengenal nama-nama tersebut. Oleh karena itu mereka berkata :
سُبحٰنَكَ لا عِلمَ لَنا إِلّا ما عَلَّمتَنا ۖ إِنَّكَ أَنتَ العَليمُ الحَكيمُ ﴿٣٢﴾……
“…… Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau pelajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana” (Q.S Al-baqarah : 32)
Demikianlah Allah Swt, telah menciptakan manusia dengan kedudukan lebih tinggi di bandingkan makhluk-makhluk lain, maka ia harus memanfaatkan kenikmatan ini. Adapun orang yang ingkar terhadap nikmat-Nya, kemudian melampiaskan keinginan-keinginannya kepada hal-hal yang buruk, maka ia akan di kembalikan ke tingkat yang sangat rendah lebih rendah dari hewan. Sebab ia sudah di beri ikhtiar namun tidak memanfaatkannya dengan baik. Justru memilih jalan yang penuh dengan syahwat, jalan dosa, dan perilaku hewan.

Ujian Kepada Para Malaikat
Telah di jelaskan di atas tadi bahwa salah satu ujian kepada Malaikat bahwa para Malaikat mengira bahwa di ciptakan Manusia oleh Allah Swt di maksudkan untuk mengingkarkan mereka.
Para ahli Tafsir, dari sudut pandang berbagai gaya penafsiran mereka, telah melontarkan pendapat. Pendapat yang berbeda menyangkut kata “mengajarkan nama-nama” yang telah di jelaskan dalam pembahasan sebelumnya, akan tetapi nama-nama ini maksudnya bukan mengajarkan beberapa kata yang tidak penting. Karena hal itu tidak di pandang sebagai kemuliaan Nabi Adam As.

Di riwayatkan dalam sebuah Hadist, Imam Ash-Shadiq ra di Tanya mengenai makna ayat ini, beliau menjawab, “Maksud nama-nama adalah ; daratan, gunung gemunung, lembah, palung sungai (dan secara keseluruhan segala hal)”. Kemudian Imam Ash-Shakar itu pun termasukdiq ra melihat tikar yang ada di bawahnya dia berkata, “Tikar itu pun termasuk benda-benda yang di ajarkan kepada Nabi Adam As.
Akan tetapi para Malaikat yang tidak memiliki pengetahuan seperti itu gagal dalam siding tersebut dan tidak lulus dalam ujian Allah Swt. Karena itu mereka menjawab :
“Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana”.



Daftar Pustaka
Imani Allamah kamal faqih, Tafsir Nurul Qur’an, Al huda, 1424 H
Azis jam’ah Amin abdul, Wasiat Qur’ani Aktivis Harakah, Uswah klop pro Media,Yogyakarta 2000


Sumber:
https://abi492.wordpress.com/2010/03/23/tafsir-tarbawi-surat-al-baqarah-ayat-30-31
-
Beberapa umat Islam banyak yang menolak teori evolusi, itu didasari dari kesalahpahaman mereka tentang teori evolusi. Kita tidak tahu apakah Darwin sudah mengenal Islam masa itu atau belum. Darwin sendiri meragukan keberadaan Tuhan, dia seorang agnostik. Tetapi, kita tahu orang tuanya bukan beragama Islam, kita tahu dia tidak mengenal Islam pada zamannya. Mungkin, jika dia belajar Islam pasti dia akan menganut agama tersebut. Salah satu kesalahpahaman tentang evolusi adalah dengan dikatakannya oleh para creationis bahwa manusia itu dari kera. Itu adalah kesalahan yang fatal. Untuk mengetahuinya kita bahas dulu apa itu evolusi.

Menurut wikipedia : Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.

Itulah pengertian dari evolusi. Mungkin, dikarenakan pada zaman dahulu tidak mengenal istilah dari evolusi tapi istilah lain yang mirip pengertiannya dengan evolusi. Makanya, beberapa creationis tidak mengetahui bahwa orang-orang sebelum Darwin sudah mengemukakannya, dengan inti pembahasan yang sama dengan teori evolusi seperti saat sekarang ini yaitu Penciptaan secara bertahap. Sebelum Darwin, evolusi sudah dikemukakan oleh beberapa ahli filsafat Yunani kuno, baru setelah itu diikuti oleh berbagai ilmuwan-ilmuwan muslim terkenal, salah satunya Ibn Khaldun.

Abu Utsman Amr atau Al-Jahiz, seorang ilmuwan muslim abad 9, dalam Kitab Al-Hayawan (buku hewan) telah menjelaskan teori survival sebagai dasar dari mekanisme evolusi dan seleksi alam. Al-Jahiz berpendapat bahwa suatu species akan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berbeda dan akhirnya melahirkan species baru. Species yang tidak dapat beradaptasi akan punah, dan yang beradaptasi akan sukses melanjutkan keturunanannya.

Al-Jahiz juga telah melakukan pembahasan mengenai rantai makanan dalam sebuah ekosistem.

Ibnu Miskawayh, seorang ilmuwan muslim di abad 10, bahkan menjelaskan teori evolusi dengan sangat mendetail dan mengkombinasikannya dengan metafisika sebagai sebuah siklus "Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roojiun/ Sesungguhnya kita dari Allah dan kepada-Nya kita kembali". Dari Allah, bahwa mula-mula Allah menciptakan zat, kemudian zat itu berevolusi menjadi gas, gas berevolusi menjadi air, air berevolusi menjadi mineral, mineral berevolusi menjadi tumbuhan (Bisa di cek pada surat Nuh), tumbuhan berevolusi menjadi hewan, hewan berevolusi menjadi manusia, manusia berevolusi menjadi nabi, nabi berevolusi menjadi malaikat, dan malaikat akhirnya kembali kepada Allah.
Pandangan mengenai evolusi biologi yang berlanjut ke evolusi spiritual ini begitu populer di abad pertengahan, hingga kita bisa menemukannya pada syair-syair Jalaluddin Rumi yang hidup di abad 13, seperti berikut:
Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan, 
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang, 
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia. Kenapa aku mesti takut?
Maut tak menyebabkanku berkurang! 
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat
aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada! 
Sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci, 
“Kepada-Nya kita akan kembali.”

Ilmuwan muslim lainnya yang banyak membahas evolusi adalah Nasiruddin At-Tusi yang hidup di abad 13. Beliau menyatakan pendapatnya mengenai adaptasi makhluk hidup yang membuat setiap organ mereka menjadi fit dengan lingkungannya. Tusi mencontohkan mekanisme pertahanan pada beberapa hewan (tanduk, cakar, kecepatan bergerak) sebagai bukti bahwa mereka menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tusi juga berpendapat bahwa makhluk hidup yang beradaptasi lebih cepat akan memiliki lebih banyak variasi species. Dan akhirnya akan memiliki keunggulan dibandingkan makhluk hidup lain yang lambat dalam beradaptasi.
Ilmuwan lainnya yang tersisa di akhir-akhir zaman keemasan Islam juga masih berbicara mengenai evolusi, seperti Ibnu Khaldun yang hidup di abad 14. Dalam kitab pembukaannya, Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan teori evolusinya yang juga senada dengan teori-teori sebelumnya, berawal dari mineral yang berevolusi menjadi tumbuhan, kemudian hewan, dan manusia. Ibnu Khaldun menyebut secara eksplisit evolusi manusia dari makhluk yang lebih rendah yaitu sejenis kera.

Setelah kekalahan islam, barulah islam mulai menolak teori evolusi yang dibawa Darwin hanya karena Darwin mengatakan kehidupan muncul dengan sendirinya melalui kecelakaan atau kebetulan, padahal inti dari teori evolusi adalah perubahan suatu organisme secara bertahap.

Kembali pada para ilmua muslim pada zaman kejayaan islam, kita melihat adanya keanehan, jika Evolusi bertentangan dengan Al-Quran apakah tidak aneh kalau para ilmuan muslim tersebut masih beragama islam pada saat itu? Dan apakah tidak aneh kalau dia tidak dianggap sebagai penghina Nabi Adam? Kenapa hal itu bisa terjadi. Tidak lain penyebabnya pastilah ucapan mereka tidak bertentangan sama sekali dengan Ayat Al-Quran. Mari kita lihat apa yang dikatakan Al-Quran didalam surat Nuh:
Ada ...apa dengan kamu bahwa kamu tak mengharap kebesaran dari Allah? Dan sesungguhnya Ia telah menciptakan kamu dengan berbagai tingkatan. Apakah engkau tak melihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit sama? Dan di sana Ia membuat bulan sebagai cahaya, dan membuat matahari sebagai lampu. Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari bumi sebagai tumbuh-tumbuhan (Dari asal kata Nabatun, berarti Tumbuh-tumbuhan) (Nuh Ayat 13-17)
Lihat kalimat yang mengatakan "Ia telah menciptakan kamu dengan berbagai tingkatan" Tak sangsi lagi bahwa ayat ini menerangkan evolusi manusia. Pada umumnya para mufassir berpendapat, bahwa ayat ini mengisyaratkan berbagai keadaan yang dialami oleh bayi selama dalam rahim ibu. Tetapi ayat ini berarti sempurnanya keadaan jasmani manusia sekarang ini setelah mengalami berbagai keadaan, ini dijelaskan oleh ayat 17 berikutnya yang menerangkan bahwa pertumbuhan manusia pada tingkat permulaan itu seperti tumbuh-tumbuhan yang keluar dari bumi. Hendaklah diingat bahwa di sini manusia digambarkan sebagai tumbuh- tumbuhan yang keluar dari bumi, artinya melalui proses perkembangan tahap demi tahap. Bahkan dalam proses kejadian, yang kita saksikan sehari-hari, ini pun melalui proses tahap demi tahap. Segala macam tanaman tumbuh dari bumi. Dari tanaman ini manusia mendapat makanan, dan dari makanan yang ia makan, dihasilkan benih manusia, yang selanjutnya mengalami pula proses perkembangan (tahap demi tahap). Tetapi kemungkinan besar bahwa pertumbuhan di sini, dan tingkatan-tingkatan yang disebutkan dalam ayat 14 itu, mengisyaratkan proses perkembangan besar yang dialami oleh semua manusia hingga ia mencapai tingkatan jasmani yang sempurna seperti sekarang ini. Ingat juga diayat lain Allah menerangkan semua kehidupan bermula dari air.. kita ingat dari air lah mulai nya tumbuhan seperti lumut, dari lumut merubah bebatuan menjadi lapuk dan berubah menjadi tanah nah disanalah awal manusia dari tumbuhan tersebut.

Bagaimana dengan Adam?
Di dalam Al-Qur’an manusia pertama memang tidak diungkap secara eksplisit. Tampaknya, mengurai asal-usul manusia pertama bukanlah tema substantif al-Qur’an.
Seperti yang kita tau, Manusia modern pertama atau yang disebut Homo Sapien bermula dari Afrika baru selanjutnya menyebar keseluruh dunia. Apakah Homo aspen tersebut yang bernama adam? Tapi kalau dilihat dari segi bahasa, Homo sapien dan adam memiliki arti yang sama, kata adam berasal dari bahasa aram kuno yang berarti manusia atau yang kita kenal manusia modern, sedangkan kata Homo sapien sendiri juga berarti Manusia modern

Adam sebagai Khalifah
Substansi dari dialog dengan malaikat (Q.s. al-Baqarah: 30-31 ) adalah penegasan bahwa sesungguhnya Allah sebagai Pencipta atau Penjadi khalifah di muka bumi ini. Kata “jaa`ilun” sebagai konstruksi isim fa`il yang berarti subyek pelaku dalam frasa Innii jaa’ilun fi al-ardhi khaliifah tidak harus diartikan “hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Seandainya arti ini yang dipahami, maka tidak ada khalifah sebelum Adam. Konseksuensi logisnya, Adam adalah manusia pertama.

Seandainya frasa tersebut dikembalikan pada makna asalnya sebagai isim fa‘il, maka hal itu mengisyaratkan bahwa Allah—sebelum atau sesudah terjadinya dialog dengan malaikat sebagaimana yang termaktub dalam ayat tersebut—selalu menjadikan khalifah di muka bumi. Dengan demikian, Adam bukanlah khalifah yang pertama dan bukan pula manusia yang pertama yang diciptakan Allah.
Kemudian, ayat-ayat tersebut memunculkan wacana bahwa seolah-olah malaikat mempunyai pengalaman mengamat-amati sepak terjang sang khalifah. Tampaknya malaikat khawatir akan masa depan khalifah baru yang bernama Adam itu, seandainya perilaku destruktif akan menghancurkan tatanan taqdis dan tasbih malaikat. Kita hanya bisa menduga-duga kategori khalifah yang seperti apakah yang telah (dan akan) melakukan perbuatan tercela itu. Tidak ada keterangan yang jelas perihal khalifah versi malaikat yang dimaksud. Al-Qur’an dalam Q.s. Shaad: 67-73 dengan tegas menyatakan untuk tidak memperpanjang bantah-bantahan ini.

Ada riwayat yang mengasumsikan bahwa iblis atau jin sebagai khalifah sebelum Adam. Qatadah, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menduga, bahwa khalifah yang dimaksud adalah khalifah dari golongan jin yang diduga berbuat kerusakan. Asumsi ini berdasarkan analisis ayat yang menerangkan bahwa jauh sebelum manusia diciptakan, Allah telah menciptakan jin (Ibn-Katsir, Qishashul Anbiya’, hlm. 2).
Benar bahwa jin (dan malaikat) diciptakan sebelum Adam berdasarkan Q.s. al-Hijr: 26-27, namun apakah mereka—khususnya para jin—berperan sebagai khalifah di muka bumi? Pendapat para sahabat tersebut tampaknya hanyalah praduga saja. Lagi pula tidaklah mungkin bumi yang kasat mata ini diwariskan kepada para jin yang tidak kasat mata. Bentuk pengelolaan semacam apakah seandainya para jin yang berfungsi sebagai khalifah di muka bumi ini.

Khalifah sebelum Adam dan khalifah yang hendak diciptakan Allah ini adalah khalifah yang benar-benar berasal dari golongan manusia. Perhatikan ayat berikut ini: Dan Dialah yang telah menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat ‘iqab-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (Q.s. al-An’am: 165).
Ayat tersebut kembali menegaskan bahwa sesungguhnya Allah adalah pencipta para khalifah di muka bumi ini. Kata ganti orang kedua (dhamir mukhatab) pada ja’alakum merujuk pada seluruh umat manusia. Menilik pada keumuman lafadz ini, apabila dikaitkan dengan pertanyaan malaikat tentang penciptaan khalifah, maka khalifah sebelum Adam adalah khalifah dari golongan manusia juga. Ada banyak “Adam-Adam” lain yang sebelumnya diciptakan Allah dengan fungsi yang sama namun dengan karakter yang berbeda; destruktif. Adam dan Instalasi al-Asma’.
Dengan mengorelasikan fakta-fakta arkeologis tentang ragam manusia sebelum Homo Sapiens, tampaknya selaras dengan karakter “destruktif” sebagai yang digambarkan malaikat. Namun, bukankah karakter hominid memang demikian? Manusia-manusia tersebut mempunyai struktur fisik yang hampir mirip manusia (kalau tidak ingin dikatakan hampir mirip kera). Mereka tercipta dengan volume otak yang kecil yang dengan sendirinya perilakunya pun cenderung tanpa tatanan manusiawi atau bersifat kebinatangan. Mereka tidak layak disebut sebagai khalifah. Sementara itu, khalifah mempunyai kedudukan yang terhormat sebagai “duta” Allah untuk mengelola bumi ini.

Di sinilah letak diskontinuitas itu. Ternyata, kita tidak bisa mengorelasikan fakta sejarah manusia (asal mula manusia menurut para penganut evolusionisme) dengan asal-usul Adam. Ada banyak keterserakan, sebagaimana yang dideskripsikan Michel Foucault, diskontinuitas dipahami sebagai terserak dan berkecambahnya sejarah ide-ide dan munculnya periode-periode yang begitu panjang dalam sejarah itu sendiri. Dalam pengertian tradisional, sejarah semata-mata selalu tertuju pada keinginan untuk menentukan relasi-relasi kausalitas, determinasi sirkular, antagonisme dan relasi ekspresi antara berbagai fakta dan kejadian yang terekam oleh manusia (The Archeology of Knowledge, hlm. 10).
Keterserakan ini yang menyangkut relasi-relasi kausalitas, determinasi sirkular, antagonisme dan relasi ekspresi antara berbagai fakta dan kejadian yang terekam oleh manusia. Celakanya, kita menganggap bahwa data-data historis tentang bapak manusia itu dirasa cukup hanya dengan ditafsirkan oleh data-data hadits yang sangat dipengaruhi oleh kisah-kisah israiliyat (Bible). Seandainya kita hendak meneliti sejarah penciptaan ini, meminimalisasi diskontinuitas dengan “comot sana comot sini” dari data-data Biblikal bukanlah semangat Qur’anik. Bukankah sejak awal al-Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya?
Dengan meneliti ayat “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Q.s. al-Baqarah: 37), suksesi khalifah yang tidak berdasarkan kalimah Allah ke yang berdasarkan kalimah Allah barangkali yang paling mendekati untuk mereka-reka praduga ini. Allah hendak mengganti khalifah yang berperilaku destruktif yang tidak berdasarkan pada hukum-hukum Allah dengan khalifah berperadaban yang berdasarkan pada hukum-hukum Allah. Jadi, tegaslah bahwa para hominid itu bukan khalifah.

Namun yang pasti, Adam bukanlah manusia pertama. Tampaknya Q.s. al-Baqarah: 30 menghendaki bahwa penciptaan khalifah berikutnya adalah untuk mereformasi dan merehabilitasi “Adam-Adam” sebelumnya. Dengan kata lain, Allah hendak mengganti khalifah perusak yang tanpa tatanan hukum Allah itu dengan khalifah baru yang bernama Adam dan anak keturunannya kelak yang berlandaskan tatanan hukum Allah.

Selanjutnya, proses pembelajaran untuk khalifah baru ini segera dilakukan. Instalasi ini adalah pembekalan pada diri Adam yang berupa persiapan diri untuk menerima seluruh identifikasi nama-nama, al-asma’ kullaha. Kalimat kullaha adalah penguatan (taukid) bahwa pengajaran al-asma meliputi seluruh nama-nama atau identitas (al-musammiyaat) benda-benda (Tafsir Zamakhsyari, Juz I, hlm. 30).
Sementara itu, Imam al-Qurthuby menitikberatkan bahwa proses pengajaran al-asma’ adalah pengajaran dalam bentuk dasar-dasar ilmu pengetahuan (Tafsir al-Qurthuby, Juz I, hlm. 279). Hal ini mengandung makna yang lebih dalam, bahwa Adam sudah diperlengkapi dengan perangkat nalar yang siap untuk menerima seluruh identifikasi nama-nama. Pengajaran bukanlah dengan mengajarkan penyebutan benda-benda satu-persatu belaka, namun lebih pada pengidentifikasian yang selanjutnya dikembangkan sendiri oleh Adam. Adam-lah manusia rasional yang pertama.
Proses instalasi ini dijadikan bekal Adam untuk diwariskan kepada anak cucunya dalam rangka mengelola dunianya kelak. Instalasi al-asma’ adalah instalasi sendi-sendi pengetahuan sehingga Adam mampu mengidentifikasi nama-nama seluruhnya (al-asma’ kullaha). Faktor inilah yang mendorong manusia untuk menjadi makhluk pembelajar—homo academicus. Adam mampu mengidentifikasi dan mengembangkan daya nalarnya sampai pada tahap yang mengagumkan malaikat. Sementara, malaikat tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun kecuali apa yang telah diinformasikan Allah kepada mereka, subhaanaka laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa. Inilah yang membuat malaikat jatuh tersungkur karena ta’dzim kepada Adam akan pencapaian kemajuan ilmiahnya.

Tampaknya, diskontinuitas sejarah penciptaan Adam memang demikian adanya. Al-Qur’an—justru—hendak menggerakkan hikmah di balik penciptaan itu untuk selalu terus menerus berpikir dan menggunakan daya nalar manusia di bawah bimbingan hukum Allah (kalimaatin) sebagaimana Adam meletakkan dasar-dasar budaya dan peradaban di bawah bimbingan-Nya. Sementara itu, membicarakan Adam sebagai tokoh sejarah (manusia pertama atau bukan) tidaklah substansial dan tidak memberikan dampak apa-apa bagi peradaban itu sendiri.



Daftar Pustaka:
Kamus Bahasa Arab penerbit apolo surabaya halaman 224
Suara Muhammadiyah wawasan islam
Al-Jahiz (1909), Kitab Al-Hayawan, Kairo, vol. I hal. 13; vol. VI hal. 133—34; vol VI hal 139; vol. VII 47, 80; vol. VII, hal. 47-48.
Muhammad Hamidullah and Afzal Iqbal (1993), The Emergence of Islam: Lectures on the Development of Islamic World-view, Intellectual Tradition and Polity, hal. 143-144. Islamic Research Institute, Islamabad.
Jalaluddin Rumi (2004), The Masnavi; Story:”The Vakil of The Prince of Bukhara”, Oxford University Press.
Farid Alakbari (2001), A 13-th Darwin? Tusi’s Views on Evolution. Azerbaijan International Magazine hal. 48.


Sumber:
https://www.facebook.com/note.php?note_id=150776644983758



-

Tumbuhan merupakan salah satu makhluk hidup ciptaan Allah yang memiliki banyak sekali manfaat. Tumbuh-tumbuhan dapat memunculkan beberapa zat untuk dimanfaatkan oleh makhluk hidup lainnya, misalnya mulai beberapa vitamin-vitamin, minyak dan masih banyak lainnya. Dalam firman-Nya Allah menjelaskan dalam QS Al-an’am : 99.
- -
Beberapa waktu lalu seorang sahabat biomania menulis tentang “Peluang Pangan Dari yang Merambat” di mana beliau memperkenalkan salah satu tanaman leguminoceae yaitu Koro Pedang atau Canavalia ensiformis. Dalam al-Qur’an tanaman ini masuk jenis ‘biji-bijian yang dimakan’ atau habba. Jenis inilah salah satunya yang Allah tunjukkan kepada kita untuk menghidupkan bumi yang mati, dan kini bukti kebenarannya sudah bisa kita saksikan di Jonggol.
- - -
Sobat biomania, tentu sobat sangat menganggap puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat penting. Nah, untuk itu dalam menjalankan ibadah puasa ini alangkah baiknya menjaga stamina tubuh dengan asupan makanan yang baik, misalnya mengonsumsi buah tertentu. Asupan  gizi yang baik saat puasa, semakin mempermudah kita dalam menjalankan ibadah ini. Untuk memenuhi gizi saat menunaikan ibadah puasa, disaat berbuka dan sahur wajib mengonsumsi makanan yang bergizi seperti buah-buahan, sayuran serta minum minimal 6 kali dalam sehari.  Walau menu sederhana, yang terpenting makanan tersebut mengandung lima unsur gizi lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Saat  berpuasa bahan makanan penghasil energi utama seperti karbohidrat, lemak, dan protein yang masuk ke tubuh kita relatif tidak sebanyak hari-hari biasa. Berikut ini beberapa buah yang baik di konsumsi sebagai asupann vitamin saat berpuasa.
- - -
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." (QS Yaasiin: 78-79)

Saat kita meninggal dunia dan dikuburkan, maka beberapa waktu lamanya jasad kita akan menjadi tulang-belulang. Kemudian setelah beberapa tahun, tulang-belulang itu pun akan hancur dan berubah menjadi semacam biji. Dan di dalam biji tersebut kita akan menemukan satu tulang yang sangat kecil. Tulang itu disebut 'ajbudz dzanab atau tail-bone (tulang ekor).
- -
Ketika kita ditanya, “Apakah bir haram?” Maka kita dapat dengan mudah menjawab : “Oh, jelas HARAM…!” Mengapa? Karena mengan-dung alkohol yang cukup tinggi dan memabukkan. Karena sangat jelas hukumnya, maka tentu seorang muslim yang biasa ke masjid akan merasa risih berdekatan dengan minuman beralkohol tersebut.

Akan tetapi, ketika kita ditanya bagaimana hukum Bir Bintang 0% Alkohol dan Greensand 0% Alkohol? Sebagian kita langsung mengatakan keduanya “HALAL” karena tidak mengandung alkohol. Akan tetapi, sebagian yang lain mengatakan dengan tegas: “HARAM”, bukan memabukkan!

Lalu, bagaimana dengan TAPE, baik tape ketela (maupun peuyeum Bandung) dan tape ketan? Hampir spontan seluruh orang di sekitar kita mengatakan tape halal! Tapi, begitu disodori informasi bahwa kandungan alkohol tape sekitar 7 % (bahkan bisa sampai 10%), maka sebagian di antara kita akan mengatakan “Ohh…berarti haram?!” Sebagian lagi bimbang karena sering memakan tape tidak pernah ada masalah.

Kita sering bingung dengan makhluk yang namanya ALKOHOL ini. Bagaimana sebenarnya Syari’at Islam mengatur mengenai masalah ini? Sampai berapa persen alkohol masih diijinkan berada dalam bahan makanan?


BENARKAH ALKOHOL HARAM?

Kenapa kita sibuk dengan istilah Alkohol, padahal tidak ada satu pun ayat Qur’an maupun Hadits Nabi yang menyebutkan bahwa Alkohol di-haramkan! Bahkan di jaman Sahabat Nabi pun istilah ini belum dikenal. Bila dicermati, larangan yang ada adalah mengkonsumsi KHAMR!

Allah Swt. berfirman dalam Kitab Suci Al Qur’an : “Hai orang-orang yg beriman! Janganlah kamu sholat , sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”. QS. An Nisaa’ (4) : 43

“Mereka bertanya kepadamu tentang Khamr dan judi. Katakanlah : “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya…” QS. Al Baqoroh (2) : 219

“Hai orang-orang yang beriman! Sesung-guhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbu-atan syaithon! Maka jauhilah perbuatan-perbuat-an tersebut agar kamu mendapat keberuntungan”. QS. Al Maa’idah (5) : 90

Nah, ternyata kata kuncinya adalah Al-Khamru dan bukannya Al-Kohol. Menurut pengertian bahasa, al khamru (khamr) berarti sesuatu yang menutup akal pikiran. Al khamru berarti tertutup, dan khamarahu berarti satarahu (menutupi). Khamr sendiri berarti minuman keras yang memabukkan.

Umar ra. berkata : “Setiap (makanan dan minuman) yang bisa menutupi (menghilangkan) akal fikiran disebut khamr/arak” (HR. Bukhary dan Muslim).

Pada hadits lain, Nabi SAW. menambahkan: “Setiap yang memabukkan berarti khamr, dan setiap khamr hukumnya haram” (HR. Bukhary dan Muslim).

Mengacu pada sabda Kanjeng Nabi SAW. tersebut, maka berarti setiap sesuatu yang mema-bukkan adalah khamr dan setiap khamr hukumnya adalah haram.

Islam memandang bahwa khamr adalah ummul khaba’its (sumber dari segala perbuatan keji), serta miftahu kulli syarrin (kunci segala kemaksiatan). Buanyak sekali terjadi berbagai jenis kejahatan yang diawali dengan kondisi mabuk. Untuk itu, kita mesti sangat berhati-hati dengan khamr ini!


ADA BERAPA MACAM KHAMR?

Khamr terdiri dari 2 jenis, yaitu khamr yang mengandung alkohol dan khamr yang tidak mengandung alkohol. Contoh khamr yang me-ngandung alkohol adalah : beraneka macam bir (Whisky, Wine, Tennent’s, Tequilla, Scotch, Stella Artois, Brandy, dll.), aneka jenis arak masak (ang ciu/arak merah, peng ciu/arak putih, arak mie, arak gentong, sake, sari tape, dll.), aneka bahan roti beralkohol (rhum, essence beralkohol, dll.), ber-aneka cairan yang mengandung alkohol dan seje-nisnya (metanol, etanol, butanol/spiritus, dll.), serta produk-produk lain, seperti : kirsch, spirits, dll.

Kemudian, contoh khamr yg tidak mengan-dung alkohol adalah: ganja, opium, morphine, ecstasy, marijuana, sabu-sabu, serta beraneka jenis obat yang tergolong psikotropika. Psikotropika ini termasuk mukhadirot dan masuk dalam golongan al khamr. Seluruh produk tersebut di atas mengaki-batkan mabuk atau hilangnya kemampuan me-ngendalikan diri.


BAGAIMANA HUKUM TAPE DAN MINUMAN BIR 0% ALKOHOL

MUI telah meneliti permasalahan ini, dan meskipun mengandung alkohol sampai 7-10%, ternyata tidak ada satupun pihak yang melaporkan bahwa tape memabukkan. Oleh sebab itu, MUI Pusat mem-fatwakan bahwa tape (tape ketela, tape ketan, brem Madiun, dll.) hukumnya adalah halal dikonsumsi.

Begitu pula dengan buah-buahan yang me-ngandung alkohol tinggi (4-8%) seperti : durian, lengkeng, sirsak, nangka, dll. Ternyata tidak ada satupun ayat Qur’an maupun Hadits Nabi SAW. yang mengharamkan buah-buahan tersebut. Me-ngapa? Karena ketika kita konsumsi dalam jumlah banyak, ternyata hal tersebut tidak menjadikan kita mabuk atau kehilangan akal/kesadaran.

Sebaliknya, meskipun tidak mengandung se-nyawa alkohol sama sekali (benarkah?!), namun karena tetap ada unsur memabukkan, maka Komisi Fatwa MUI Pusat menyatakan bahwa Bir Bintang 0% alkohol dan Greensand 0% alkohol haram.

Mengapa MUI Pusat menghukumi kedua jenis produk tersebut haram? Alasannya adalah kedua jenis produk tersebut memenuhi salah satu kaidah fiqih dalam penetapan hukum (haram) :

Al hukmu yadluru ma’al illati (Hukum itu ditetapkan karena ada sebab). Karena beberapa pihak melaporkan bahwa ternyata ketika mengkonsumsi Bir Bintang 0% alkohol atau Greensand 0% alkohol tetap merasa mabuk, maka kedua jenis produk tersebut akhirnya dihukumi haram!
Al washilatu illa haramun haram (Segala sesuatu yang menyerupai suatu produk haram maka dihukumi haram). Oleh sebab itu, peng-imitasian pada produk haram (bir) menjadikan kedua jenis produk tersebut dihukumi haram!


BAGAIMANA KALAU SEDIKIT

Beberapa jenis obat flue cair, seperti : OBH, OBH Combi Plus, Woods, Benadryl, Vicks, Vicks Formula 44, Tonikum Bayer, dll. ternyata mengandung alkohol atau etanol. Di antara produk tersebut ternyata ada yang mengandung alkohol atau etanol hingga 6 % (bahkan ada yang lebih). Untuk itu, MUI Pusat meminta umat Islam untuk memilih jenis obat lain yang tidak menggunakan alkohol sebagai pelarut. Dengan kata lain, obat-obat jenis tersebut di atas digolongkan haram. Me-ngapa? Khan, alkoholnya hanya sedikit dan pasti tidak memabukkan. Hal tersebut memang benar, tetapi harap dicatat bahwa asal dari bahan alkohol (atau etanol) yang dicampurkan adalah alkohol/ etanol murni yang bila dikonsumsi memabukkan. Nah, meskipun sedikit, tetapi karena ditambahkan pada obat tersebut, maka obat flue cair tersebut dihukumi haram. Hal ini mengacu pada hadits Nabi SAW. yang menyebutkan :

“Minuman apapun kalau banyaknya mema-bukkan, maka (minum) sedikit (dari minuman itu) juga haram” (HR. Bukhary dan Muslim)

Selain itu, Rasulullah SAW. juga bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan untuk kamu bahwa tiap-tiap penyakit ada obatnya. Oleh karena itu, berobatlah, tetapi janganlah berobat dengan sesuatu yang haram” (HR. Abu Daud).

Serta dikuatkan oleh hadits : “Khamr itu bukan obat, tapi penyakit” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Kanjeng Nabi SAW. sendiri mengatakan bahwa khamr bukanlah obat (tapi penyakit). Lalu mengapa kita lebih percaya kepada teman (yang bukan Rasul utusan Allah), lebih-lebih dukun! Na’udzu billaahi min dzaalika! Sebagai hamba Allah yang beriman, maka sudah sepatutnyalah kita mempercayai sabda Rasulullah SAW. Kita harus selalu haqqul yaqin (sangat yakin) bahwa Sabda Nabi SAW. selalu benar.



ADAKAH PRODUK LAIN YANG MENGGUNAKAN KHAMR

Ada beberapa produk yang tidak kita sangka ternyata mengandung khamr. Produk-produk terse-but di antaranya adalah :

COKLAT yang mengandung khamr, seperti alkohol, etanol, brandy, whisky, kirsch, spirit, wine, dll.
KUE & ROTI yang menggunakan khamr berupa RHUM, seperti yang sering diperguna-kan pada : roti Black Forest, cake, sus fla, dll.
BAKMIE & SEA FOOD yang menggunakan khamr berupa ANGCIU, seperti pada : masak-an ikan (sea food), Chinese food, Japanese food, bakmie ikan, dll.

Selain Ang Ciu (Arak Merah), jenis khamr lain yang sering dipergunakan dalam aneka masak-an adalah : Peng Ciu (Arak Putih), Arak Mie, Arak Gentong, Sari Tape, serta Mirin dan Sake (di Jepang). Tentunya, karena termasuk dalam golongan khamr, seluruh jenis arak tersebut di atas HARAM dipakai sebagai salah satu bahan dalam masakan (QS. Al Maa’idah : 90).

Wahai Saudaraku seiman! Marilah kita lebih berhati-hati dengan setiap makanan/minuman yang masuk ke dalam tubuh kita dan keluarga kita. Janganlah sampai kita menyesal karena telah melakukan perbuatan nista tanpa kita sadari (karena kita mabuk). Satu-satunya jalan untuk selamat adalah mengikuti Syari’at Islam secara kaffah. Janganlah kita mengikuti langkah-langkah Syaiton, karena syaiton adalah musuh yang nyata bagi kita semua. Allahu a’lam bish-showwab.

Penulis : Nanung Danar Dono, S.Pt., MP. Sekretaris Eksekutif LPPOM MUI DIY (07707 398 546, nanung.danardono@yahoo.co.uk)

Sumber Artikel:
http://masjid-nurulilmi.or.id


Photobucket
- -
Kloning (klonasi) adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya pada makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan, maupun manusia.

Kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita –yang telah dihilangkan inti selnya– dengan suatu metode yang mirip dengan proses pembuahan atau inse­minasi buatan. Dengan metode semacam itu, kloning manusia dilaksanakan dengan cara mengambil inti sel dari tubuh seseorang, lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang diambil dari seorang perempuan.
- -